Cemburu dan "Cemburu"
CEMBURU DAN "CEMBURU"
Oleh : Agus Iman Santoso
Pernahkah anda merasa cemburu dan “cemburu” ? Ya, cemburu yang pertama adalah sebuah rasa kurang senang ketika melihat orang lain beruntung dan “cemburu” yang kedua adalah sebuah rasa kurang senang ketika melihat perbuatan/sikap/sifat yang tidak sesuai dengan nilai-nilai kebenaran yang universal dan keyakinannya.
Nah sejarah cemburu bisa kita ulang kembali disini. Cemburu yang pertama kali ditampakkan adalah kecemburuan para malaikat ketika Allah SWT berkehendak menjadikan manusia sebagai khalifah di muka bumi ini. Tapi para malaikat bukan cemburu buta. Mereka mengemukakan alasan kepada Allah SWT (tentunya DIA telah mengetahui alasan apa yang akan diungkap para malaikat tersebut) yaitu mereka adalah makhluk yang tidak diragukan lagi kepatuhannya. Para malaikat selalu bertasbih Memuji dan Mensucikan Allah SWT. Sudah selayaknya kekhalifahan itu diberikan kepada para malaikat. Para malaikatpun mengajukan alasan tentang kekurangan manusia yaitu manusia selalu membuat kerusakan dan pertumpahan darah. Kalau dilihat dari logika kita sangatlah logis alasan yang dikemukakan oleh para malaikat tersebut. Tapi Allah adalah Dzat Yang Maha Sempurna dan Maha Mengetahui, yang kemudian menyadarkan para Malaikat hakikat dari penciptaan Nabi Adam, penciptaan malaikat dan terlebih adalah hakikat Allah sebagai Pencipta semuanya.
Kecemburuan berikutnya adalah ketika Iblis laknatuLLAH menolak dan menyombongkan diri untuk ber”sujud” kepada Nabi Adam atas perintah ALLAH SWT. Keengganan dan kesombongan Iblis juga beralasan. Iblis merasa lebih baik dan lebih dahulu dari Nabi Adam. Iblis berasumsi penciptaannya yang dari api lebih baik dibanding Nabi Adam yang dari tanah liat. Lebih luas pengalaman dan wawasannya karena lebih dahulu keberadaannya dibanding Nabi Adam AS. Sehingga Iblis merasa seharusnya Nabi Adam yang bersujud kepadanya atau semua bersujud hanya kepada Allah SWT.Begitulah kemudian Allah SWT melaknat Iblis atas keengganan dan kesombongannya. Namun Iblis minta dispensasi kepada Allah untuk diberikan umur panjang sampai kiamat datang dan akan menggoda keturunan nabi Adam.
Kecemburuan raja Abraha yang merasa tersaingi tempat ibadahnya dengan Ka’bah di kota Makkah. Yang akhirnya menyerbu kota Makkah dengan pasukan gajahnya ingin menghancurkan Ka’bah. Dan kita dapatkan Allah SWT melindungi Ka’bah dan menghancurkan Abraha beserta pasukan gajahnya.
Zaman terus bergulir sampai pada saatnya nanti. Penampakan rasa cemburu dengan berbagai perangai dan modelnya telah menghiasi perjalanan panjang umat manusia. Para Nabi dan Rasul pun tidak lepas dari ujian dan cobaan kecemburuan dari pihak-pihak yang dibelenggu oleh kepentingannya. Namun kecemburuan mereka membabi buta sehingga para nabi dan rasul itu ada yang dihina, difitnah, diusir dari kampungnya, dan bahkan sampai mengalami pembunuhan.
Para Nabi dan para Rasul itupun menjalankan misinya karena bentuk “kecemburuannya” atas ke Tauhidan umat dan kaumnya yang menyimpang dari Tauhid Yang Benar. Cemburu karena umatnya tidak mengabdi kepada Pencipta yang sesungguhnya. Mereka menyembah Patung-patung, Batu, Api, Matahari, dan makhluk-makhluk lainnya. Mereka merendahkan dirinya sebagai makhluk yang lebih sempurna dibandingkan dengan semua makhluk Allah SWT. Mereka melalaikan amanahnya sebagai Khalifah Allah dimuka bumi ini. Mereka membelenggu kemerdekaannya dengan tunduk kepada sesuatu yang lebih rendah dan hina dari dirinya.
“Kecemburuan” para Nabi dan Rasul adalah ingin mengembalikan kemerdekaan penghambaan kaumnya hanya kepada penciptanya, yaitu Tuhan Semesta Alam. Melepas semua belenggu yang mengerdilkan kemanusiaannya sebagai Khalifah. Dan ini juga agar tidak muncul kecemburuan yang lebih besar yaitu “kecemburuan” dari Allah SWT. Hal ini ketika manusia bermaksiat dan melakukan dosa. Dari Abu Hurairah r.a, bahwa Nabi SAW bersabda : “Sesungguhnya Allah itu cemburu, dan kecemburuan Allah itu manakala seorang hamba melakukan apa yang diharamkan Allah terhadapnya”. Kecemburuan sebagai bukti kasih sayang Allah SWT kepada makhluknya agar dapat kembali kepada-Nya dengan selamat.
Bahkan pada hari kiamat nanti ada yang menyebabkan para Nabi dan Syuhada yang “cemburu” dengan kedudukan orang-orang yang saling mencintai karena kebesaran-Ku, ya mereka berada diatas mimbar yang terbuat dari cahaya.
Nah kembali kepada pertanyaan diawal, pernahkah ada cemburu dan “cemburu”. Betul kita perlu menginventarisir kecemburuan mana yang paling determinan pada diri kita yang cemburu atau yang “cemburu”. Cemburu dengan tetangga yang selalu baru perabotan rumah tangganya. Cemburu dengan teman kita yang mampu membeli kendaraan terbaru. Cemburu dengan karir orang lain yang melesat dengan pesat. Kecemburuan yang membuat kita menjadi panas hati ini. Kecemburuan yang menelorkan upaya-upaya untuk menfitnahnya, bahwa hartanya itu tidak halal, hartanya dari “jalan lain”, dan menuduh karirnya karena nepotisme. Atau sebaliknya kita yang dicemburui oleh orang lain.
Kelompok “cemburu” ini, ketika melihat anak kita asyik menonton siaran yang mempertontonkan kekerasan, aurat dan hedonisme. Cemburu melihat lingkungan dan masyarakatnya tenggelam dalam kemaksiatan. Cemburu ketika pasangan kita asyik berinternetan ria dengan non muhrim membahas hal-hal yang tidak berguna dan mengabaikan waktunya dengan keluarga. Cemburu ketika hak-hak Allah dilalaikan. Bahkan harusnya kita cemburu pada diri sendiri ketika diri kita tenggelam dalam kemaksiatan. Hal ini karena betapa banyak kebaikan Allah yang telah diberikan kepada kita dan betapa dekatnya Allah mengawasi seluruh aktifitas kita.
Nah kalo cemburu yang paling awal tuh, kita kudu banyak istighfar dan evaluasi diri. Kalau perlu dari kecemburuan itu dapat menimbulkan energi positif yang memotivasi kita dengan cara-cara yang baik memperoleh sebagaimana yang kita cemburui tadi.
Sementara kecemburuan yang terakhir perlu kita tularkan kepada orang-orang disekitar kita. Jangan sebaliknya kita menjadi antipati sehingga mendapat julukan ad-dayyus sebagaimana dikatakan oleh rasulullah saw yaitu orang-orang yang tidak punya rasa cemburu terhadap istrinya, anak perempuannya dan saudara perempuannya. Ya cemburu ketika mereka tidak memenuhi hak-hak Allah SWT. Seyogyanya kita ingat betapa banyak kebaikan-kebaikan Allah yang diberikan pada diri kita dan pengawasan melekat-NYA sehingga kita patut memberikan yang terbaik dalam pengabdian ini kepada Allah SWT.
Sumber: http://aimans1172.blogspot.com/2011/06/nyatanya-kecemburuan.html
----------


Komentar
Posting Komentar