Jodoh : Dicari atau Menunggu

JODOH : DICARI ATAU MENUNGGU

Persoalan jodoh setiap orang hendaknya sungguh-sungguh, baik laki-laki maupun perempuan harus proaktif dan selektif. Tidak ada dikotomi bahwa laki-laki harus mencari dan perempuan harus menunggu.

Pada zaman Rasulullah saja ada seorang perempuan yang ‘menawarkan’ dirinya pada Rasulullah, dan Rasul-pun tidak memandang hal itu sebagai sesuatu yang hina atau tabu. Hanya saja, kita berada pada budaya yang masyarakatnya masih memandang hal itu sebagai sesuatu yang tidak etis, sehingga perempuan-perempuan Indonesia untuk persoalan jodoh lebih banyak berperan menunggu.

Agar pernikahan bersemi indah, maka dalam memilih jodoh hendaknya kita sangat mengutamakan ajaran Islam, seperti yang dipesankan Rasulullah SAW. “lihatlah agamanya maka kalian akan mendapatkan semuanya”. Dengan memiliki pasangan yang agamanya baik dan benar maka rumah tangga kita akan menjadi sakinah, mawaddah dan warahmah.

Namun, banyak juga diantara para ulama yang tidak terlalu bersepakat apabila seorang perempuan menawarkan dirinya secara terang-terangan karena menurutnya hal itu merupakan sikap yang kurang ahsan (etis).

Penawaran itu sah-sah saja manakala tidak secara langsung, misalnya lewat perantara pihak ketiga. Dan bagaimanapun kita berada pada masyarakat timur yang masih sangat memegang adat dan etika.

Jodoh memang merupakan misteri kehidupan, karena untuk hal yang satu ini terkadang membuat seseorang sangat bimbang dalam menentukan keputusannya. Jangankan untuk menerima seseorang menjadi pasangan hidupnya kelak, dalam persoalan menerima tawaran ta’aruf saja terkadang masih terlalu banyak ‘kriteria’ yang dipakai.

Sampai kriteria yang dipasangpun sudah tidak memenuhi kriteria syar’i lagi, seperti: harus yang ‘smart’, tinggi, putih, cantik, ganteng, kaya, sarjana, suku ini atau suku itu, dan lainnya. Tidak salah memang untuk memasang kriteria seperti itu, hanya saja hendaknya kita tidak mempersulit diri untuk persoalan ini.

Persoalan fisik adalah titipan dari Allah SWT, meminjam istilah Aa Gym, kita tidak pesan sama Allah waktu mau dilahirkan. Biar hitam asal hatinya putih, biar pendek asal akhlaknya tinggi, biar kurang ganteng asal taqwa, biar kurang cantik tapi sholehah. Insya Allah tidak akan menyesal bagi yang memilih pasangan hidup berdasarkan agamanya.

Mendapatkan pasangan yang baik dapat diukur dengan niat kita untuk berumah tangga. Artinya kita harus benar-benar dalam kondisi keimanan yang prima saat ingin melaksanakan pernikahan, ukurannya adalah niat berumah tangganya. Jangan sekali-kali berniat menikah saat niatnya belum lurus. Hal itu akan mempengaruhi hasil dari pasangan yang akan kita dapatkan.

Saat niat dan kondisi keimanan sudah prima maka silahkan berencana untuk menikah. Mulailah dari sekarang untuk menyusun strategi dan taktik agar mendapatkan pasangan yang sesuai dengan idealisme.

Strategi dan taktik ini merupakan bagian dari proses yang harus dijalani secara Islami. Salah satu proses itu adalah ta’aruf, dalam proses ini harus dijalani secara ma’ruf. Agar proses ta’aruf menjadi ma’ruf maka diperlukan kesabaran yang cukup.

Ta’aruf terkadang tidak menjadi jaminan kita akan langsung dapat segera menikah. Sekali gagal coba lagi, gagal lagi coba lagi, demikian hingga akhirnya kita mendapatkan pasangan yang sebenarnya yang bersamanya kita dapat membina keluarga sakinah, mawaddah, warahmah yang sudah ditetapkan Allah SWT untuk kita.

Jangan sia-siakan pernikahan, bersungguhlah dalam menggapainya. Marie von Ebner-Eschenbach berkata; “Seandainya di dunia ini ada syurga, syurga itu adalah pernikahan yang bahagia”.

Rasulullah SAW pun berkata: ‘Baiti Jannati”, rumahku syurgaku. Kebahagiaan merupakan hal yang relatif. Tiap orang mempunyai ukuran yang berbeda-beda. Namun kita mesti yakin, kebahagiaan yang hakiki dapat diperoleh hanya dengan jalan-Nya.

Ingin memiliki rumah tangga yang bisa kita jadikan syurga kita didunia? Ikutilah petunjuk Rasul. Lihat agamanya niscaya kalian akan mendapatkan semuanya. Wallahu’alam Bishawab.

Ditulis oleh: Ketua BPK DPC PKS Pesanggrahan 

Sumber: http://www.pks-jaksel.or.id------------------------------

Komentar

Postingan Populer