Abjadiyah Amaliyah Ramadhan (10) Huruf ZAY : Zakat Al-fitri (Menunaikan Zakat Fitrah)

ZAKAT AL-FITRI (MENUNAIKAN ZAKAT FITRAH)
Oleh: Abu ANaS

 
حرف الزاي
pp0006
زَّكَاةُ الْفِطْرِ
Zakat Al-fitri (Menunaikan Zakat Fitrah)

Allah SWT. mensyariatkan zakat fitrah sebelum ditunaikan shalat ied.
Rasulullah saw. bersabda:

زَكَاةَ الْفِطْرِ طُهْرَةً لِلصَّائِمِ مِنَ اللَّغْوِ ، وَالرَّفَثِ وَطُعْمَةً لِلْمَسَاكِينِ ، فَمَنْ أَدَّاهَا قَبْلَ الصَّلاةِ ، فَهِيَ زَكَاةٌ ، وَمَنْ أَدَّاهَا بَعْدَ الصَّلاةِ ، فَهِيَ صَدَقَةٌ
“Zakat fitrah untuk membersihkan jiwa orang yang berpuasa dari laghwu (senda gurau) dan rafats (perkataan kotor), dan memberikan makan kepada orang-orang miskin, bagi siapa yang menunaikannya sebelum shalat maka ia merupakan zakat fitrah yang makbul dan barangsiapa yang menunaikannya setelah shalat ied, maka ia merupakan shadaqoh biasa.” (Baihaqi dan ditashih oleh Al-Albani).

Dalam hadits lain juga disebutkan, seperti yang diriwayatkan oleh Ibnu Sashri dan Ad-Dailami dari ibnu Jarir, nabi saw bersabda:
إِنَّ شَهْرَ رَمَضَانَ مُعَلَّقٌ بَيْنَ السَّمَاءِ وَالأَرْضِ لاَ يُرْفَعُ إِلاَّ بِزَكَاةِ الْفِطْرِ
“Sesungguhnya bulan Ramadhan bergantung di antara langit dan bumi, dan tidak dapat dilepaskan kecuali dengan zakat fitrah”. (Ad-Dailamy dari Ibnu Jarir)

Dinamakan dengan zakat fitrah karena zakat tersebut dikeluarkan pada hari berbuka (hari raya). Fitr itu sendiri artinya adalah berbuka (tidak berpuasa). Sedangkan fungsi zakat fitrah itu sendiri adala sebagai berikut :

- Menghapus hal-hal yang membuat puasa kita kurang bermaksa seperti rafats (emlakukan hal-hal yang sia-sia).
- Sebagai hidangan bagi orang miskin pada hari raya yang penuh suka cita.
Dan sebagai landasan kewajiban zakat fitri adalah hadits riwayat Muslim dan Jamaah dari Ibnu Umar ra artinya :

“Sesungguhnya Rasulullah saw telah mewajibkan zakat berkenaan dengan berakhirnya shaum Ramadhan berupa 1 Sho’ kurma atau fakir miskin penerimanya gandum atau setipa orang merdeka atau sahaya lelaki atau wanita dari kaum muslimin”.

Sementara itu ketentuan pembayaran zakat fitrah berupa beras sebanyak 2,5 kg atau 3,5 liter perjiwa. Atau berupa uang yang besarnya sesuai dengan harga beradari makanan yang dikonsumsi sehari-hari (seperti beras, gandum, sagu, dan lain-lain). Misalnya : beras yang biasa dikonsumsi seharga Rp. 5000,- perliter maka fitrah berupa uang sebesar Rp. 5000,- X 3,5 liter besar = Rp. 17.500,- perjiwa.

Pada dasarnya zakatul fitri berupa bahan makanan pokok di negeri yang bersangkutan sebanyak 2 sho’ atau 2.176 gram (2,2 Kg). Boleh dipandang baik (mustahab) memberi tambahan dari kadar tersebut, jika dimaksudkan unutk ihtiyati (kehati-hatian) mengenai equevalen sha’ dengan kilogram dan menunjang santunan kepada fakir miskin agar lebih mencukupi dan efektif.

Boleh mengeluarkan zakat fitri dengan uang jika lebih bernilai guna bagi fakir miskin penerimanya, terlepas apakah lebih memudahkan bagi pihak pembayar zakat atau tidak. Sebagaimana difatwakan oleh para ulama sekarang ; juga diriwayatkan oleh Hasan Al-Bisri dan Umar bin Abdul Aziz.

Untuk kembali ke ashalah dan khurujan anil khilaf (keluar dari khilaf) sangat ditekankan mengeluarkan zakat fitrah dalam bentuk qut (bahan makanan pokok, beras) dan sadapat mungkin dengan kualitas terbaik.

Sebaiknya zakat fitrah sudah dikeluarkan/dikumpulkan dua hari sebelum hari raya, sebagaimana yang dilakukan sebagian sahabat. Diantaranya ibnu Umar ra. Hal ini jelas akan menunjang realisasi ighnaul masakin (memberi kecukupan bagi orang miskin) pada hari raya fitri dan melancarkan penanganannya.

Boleh mengelurkan zakat di ta’jil (disegerakan) sejak awal-awal Ramadhan dan melancarkan penanganannya masih boleh/sah mengeluarkan ba’da subuh hari raya tapi sebelum shalat iwd. Jika sesudahnya, maka kedudukannya bergeser dari zakat fitri yang fardhu menjadi shadaqoh yang sunnah. Hal ini berdasarkan hadits sebagai berikut :

“Barangsiapa yang menunaikan sebelum ied, maka merupakan zakat yang diterima, sedang yang mengeluarkan sesudah shalat ied maka kedudukannya hanyalah berupa shadaqah sunnah”.

Ketika terjadi perbedaan dalam penanggalan akhir Ramadhan/1 Syawwal, maka yang jadi pertimbangan sah tidaknya zakatul fitri yang dikeluarkan adalah sesuai dengan penanggalan yang dianut oleh muzakki. Yang bersangkutan dapat mengeluarkan sendiri kepada para mustahiqqin, atau mewakilkannya kepada suatu panitia sebagai suatu penerima amanah. Baik penerimanya berlebaran pada hari yang sama dengan muzakki ataupun berbeda, tujuannya thu’mah lil masakin atau menyantuni fakir miskin tetap tercapai.

Mempertimbangkan kesamaan hari raya agar sesuai dengan perintah Rasul saw :
“Cukuplah mereka dari meminta-minta pada hari ini”.

Adalah afdhal, tanpa ada para mustahiqqin sekitarnya yang karenanya terlantar.
Sejalan dengan hal tersebut, maka bagi suatu panitia zakatul fitri yang berhari raya lebih dahulu dari sebagian masyarakat, dapat dilakukan hal-hal berikut :

1. Tidak menerima zakat fitrah setelah panitia melaksanakan shalat ied, jika dapat memberikan penjelasan tanpa mengundang fitnah dengan mereka /masyarakat sekitar.
2. Menerimanya kemudian segera menyalurkannya kepada para mustahiqqin yang bersamaan dengan iednya dengan muzakki.

Zakat fitrah sudah diterima oleh mustahiq atau wakilnya (bukan amil zakat) sebelum shalat ied. Adapun penyerahan dari wakil kepada mustahiqnya tidak diharuskan sebelum shalat ied.
Adapun diantara hukum-hukumnya adalah:

1. Wajib atas setiap jiwa seorang muslim untuk mengeluarkannya, dan juga anggota keluarganya dari anak-anaknya, istri-istrinya dan pembantunya (atau orang yang berada dibawah tanggungannya).
2. Pembantu yang memiliki kewajiban berzakat atas dirinya namun disunnahkan bagi orang mengambilnya sebagai pembantu untuk membayarkannya.
3. Besarnya zakat adalah satu sha’ dari makanan pokok suatu negeri; seperti tamr, sya’ir, bur (gandum), dzurrah (jagung) atau aruz (beras). Satu sha’ sama dengan 3 kg.
4. Orang yang yang berada dalam kandungan tidak diwajibkan mengeluarkannya namun disunnahkan.
5. Sunnahnya didistribusikan langsung kepada orang-orang miskin di daerah tempat muzakki tinggal dan tidak memindahkannya ke daerah lain.
6. Boleh mengeluarkannya satu atau dua hari sebelum idul fitri, atau pada malam ke 28 dan ke 29.

Judul Asli : Abjadiyat Amaliyah Ramadhan (10) Huruf Zay
http://www.al-ikhwan.net/abjadiyat-amaliyah-ramadhan-10-huruf-zay-3092/
-----------------------

Komentar

Postingan Populer