Ramadhan dan Momentum Kebangkitan
RAMADHAN DAN MOMENTUM KEBANGKITAN
Oleh: Ahmad Heryawan (Gubernur Jabar)
BANGSA Indonesia saat ini masih dihadapkan pada upaya untuk mengatasi permasalahan kemiskinan dan pemerataan kesejahteraan. Namun upaya pengentasan kemiskinan seringkali berjalan seperti seorang yang memintal benang hingga menjadi kain dan kemudian diuraikannya kembali kain tersebut.
Fundamental ekonomi Indonesia yang lemah telah mengakibatkan bangsa ini harus seringkali beradaptasi terhadap perkembangan ekonomi global. Belum juga selesai proses adaptasi masyarakat miskin menghadapi multiplier effects akibat krisis ekonomi global tahun 1997, kini mereka dipaksa untuk kembali menghadapi kenyataan pahit akibat krisis harga minyak dunia. Meskipun harga minyak dunia telah mulai turun, namun dampak yang diakibatkannya masih dapat kita rasakan hingga hari ini.
Memasuki bulan Ramadhan kali ini rakyat juga kembali dipaksa menghadapi kenyataan naiknya harga bahan bakar gas elpiji dan berbagai bahan pokok. Sugguh malang nasib rakyat negeri ini. Dua perasaan yang saling bertolakbelakang, perasaan suka cita dan tertekan, terpaksa harus hadir secara bersamaan memasuki bulan Ramadhan. Namun demikian, bagi orang yang berkelebihan perlu menyadari bahwa pada bulan penuh kemulian ini, Rasulullah mengarahkan kita untuk banyak mengamalkan perbuatan yang dapat meringankan beban penderitaan orang lain. Resapilah taujihat nubuwah (arahan kenabian) dari Ralullah saw. suatu hari di penghujung bulan Sya’ban: “Ramadhan itu adalah bulan sabar, sedangkan sabar itu adalah pahalanya surga. Ramadhan itu adalah bulan memberi pertolongan ( syahrul muwasah ) dan bulan Allah memberikan rizqi kepada mukmin di dalamnya. Barangsiapa memberikan makanan berbuka seseorang yang berpuasa, adalah yang demikian itu merupakan pengampunan bagi dosanya dan kemerdekaan dirinya dari neraka. Orang yang memberikan makanan itu memperoleh pahala seperti orang yang berpuasa tanpa sedikitpun berkurang.” (HR. Ibnu Huzaimah)
Kondisi kehidupan bangsa yang penuh dengan berbagai persoalan, janganlah membuat kita menjadi putus asa dan bersikap apatis. Bukankah semangat untuk bangkit justru lahir dari situasi keterpurukan. Bukankah situasi sulit yang mampu membuat sebuah bangsa menjadi dewasa. Bangsa Indonesia memang tengah dililit oleh krisis multidimensi berkepanjangan, akan tetapi harapan untuk maju menjadi bangsa yang kuat dan bermartabat tentu masih ada. Apalagi saat ini adalah bulan Ramadhan yang dinaungi dengan berbagai kemuliaan. Perjalanan waktu telah memperlihatkan kepada kita, bahwa di bulan suci ini telah berkali-kali lahir sebuah semangat dan kegairahan besar dalam sejarah peradaban manusia. Kegairahan yang lahir dari dorongan untuk terbebas dari belenggu daya angkara murka.
Sejarah telah mencatat bahwa pada hari Jum’at 17 Ramadhan tahun ke-2 H (623 M), kaum muslimin di bawah pimpinan Rasulullah SAW berhasil mengalahkan keangkuhan kafir Quraisy. Kemenangan ummat Islam terhadap bangsa Mongol pada perang ‘Ain Jalut (dekat Nablus di Palestina) dilakukan pada hari Jum’at 15 Ramadhan 658H. Perang ‘Ain Jalut merupakan peristiwa besar dalam sejarah Islam dan merupakan kemenangan pertama yang berhasil dicapai oleh kaum muslimin terhadap orang-orang Mongol. Setelah sebelumnya Mongol sempat meluluhlantakkan Baghdad dan membantai sekitar sejuta orang muslim pada Muharram 656 H (1258 M).
Bagi bangsa Indonesia, Ramadhan memiliki arti penting tersendiri. Proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia 17 Agustus 1945 bertepatan dengan 9 Ramadhan 1364 H. Sudah sepantasnya jika bangsa Indonesia kembali menjadikan Ramadhan sebagai momentum kebangkitan untuk mewujudkan cita-cita berbangsa dan bernegara seperti pernah digariskan oleh para pendiri negeri.
Bangkit menjadi bangsa yang berdaulat terhadap kekayaan sumber daya alamnya. Bangsa yang sumber daya manusianya mampu mengelola kekayaan alam secara optimal. Bangsa yang sumber daya alamnya memberikan manfaat untuk peningkatan kesejahteraan rakyat banyak. Bangkit menjadi bangsa yang kebijakan-kebijakan pemerintahnya senantiasa berpihak pada rakyat, bukan pada bangsa asing pemilik modal. Bangkit menjadi bangsa yang pasarnya dibanjiri oleh produk-produk hasil buah tangan anak negeri. Bangkit menjadi bangsa yang memiliki banyak keunggulan dalam persaingan global.
Perlu rasanya kita menyelami kembali api semangat kebangkitan Soekarno muda yang dituangkan dalam pidato pembelaannya di hadapan hakim kolonial. Inilah salah satu penggalan pleidoi Soekarno yang kemudian dikenal dengan nama Indonesia Menggugat.
"Pergerakan tentu lahir. Toh... Diberi hak-hak atau tidak diberi hak-hak; diberi pegangan atau tidak diberi pegangan; diberi penguat atau tidak diberi penguat, --tiap-tiap makhluk, tiap-tiap ummat, tiap-tiap bangsa tidak boleh tidak, pasti akhirnya berbangkit, pasti akhirnya bangun, pasti akhirnya menggerakkan tenaganya, kalau ia sudah terlalu sekali merasakan celakanya diri teraniaya oleh suatu daya angkara murka! Jangan lagi manusia, jangan lagi bangsa, --walau cacingpun tentu bergerak berkeluget-keluget kalau merasakan sakit!"
Sudah saatnya bagi rakyat Indonesia, khususnya rakyat Jawa Barat, menjadikan momentum Ramadhan sebagai titik tolak untuk bangkit mengentaskan masalah kemiskinan dan mendistribusikan kesejahteraan secara lebih adil. Alangkah indahnya jika di bulan penuh berkah ini, seluruh jajaran pemerintah daerah dan masyarakat Jawa Barat sama-sama berkomitmen dan meneguhkan pendirian untuk mau bangkit membangun bumi Pasundan yang gemah ripah repeh rapih.
Pencapaian visi Masyarakat Jawa Barat Mandiri, Dinamis dan Sejahtera tidak akan terwujud tanpa peran serta aktif seluruh elemen masyarakat Jawa Barat. Krisis yang kita hadapi bukanlah perihal sederhana, melainkan persoalan kompleks dan melibatkan banyak variabel dan bidang kehidupan. Tanpa dukungan peran serta seluruh komponen warga Jawa Barat, pastilah pemerintah kehilangan daya untuk mewujudkan cita-cita tersebut. Untuk mewujudkan visi tersebut, setidaknya ada tiga hal yang perlu dilakukan oleh seluruh elemen masyarakat Jawa Barat.
Pertama, kerja keras. Optimasi efektifitas dan efisiensi pemanfaatan sumber daya ekonomi membutuhkan kerja keras berbagai elemen masyarakat. Kerja keras para pekerja dan buruh akan meningkatkan produktivitas perusahaan dan pada akhirnya juga akan meningkatkan pendapatan mereka. Peningkatan pendapatan para pekerja dan buruh sudah barang tentu akan menaikkan indeks daya beli masyarakat. Tingginya produktivitas para pekerja dan buruh juga memainkan peranan penting dalam meningkatkan indeks daya saing. Karena para pekerjanya produktif daya saing Malaysia, Taiwan dan Singapura tetap unggul dibandingkan Indonesia, meskipun upah buruh mereka lebih tinggi dari upah buruh kita.
Semangat kerja keras juga dibutuhkan pada lingkungan birokrasi. Perubahan mindset (pola pikir) aparat pemerintah dalam hal pelayanan publik adalah sebuah kemestian. Perlu perubahan pada pola pikir birokrasi yang beranggapan bahwa apabila sesuatu bisa diperlambat, mengapa harus dipercepat. Aparat pemerintah perlu bekerja keras dengan orientasi memberikan pelayanan terbaik kepada masyarakat. Rakyat harus dapat merasakan bahwa ada sebuah perubahan pada kinerja birokrasi dalam memberikan pelayanan publik. Efektifitas pelayanan publik tentu dapat berdampak kepada peningkatan produktivitas seluruh masyarakat.
Kita juga membutuhkan kerja keras para petani dan nelayan untuk meningkatkan produktivitas di sektor pangan, sehingga keinginan untuk mencapai swasembada pangan dapat terwujud. Jika saja seluruh elemen masyarakat dalam menjalankan tugasnya senantiasa berbasis pada etos dan semangat kerja tinggi, maka cita-cita Jawa Barat sejahtera tentu tidak akan jauh dari kenyataan.
Kedua, solidaritas sosial. Distribusi kesejahteraan yang tidak merata telah menyebabkan semakin lebarnya jurang kesenjangan sosial. Bukanlah sebuah rahasia bahwa pertumbuhan ekonomi hanya dinikmati oleh 40 persen golongan menengah dan 20 persen orang terkaya. Kesenjangan sosial yang terjadi perlu dijembatani agar menghasilkan kolaborasi yang produktif. Saling membantu, tolong menolong dan saling dukung akan membawa kebaikan bagi kedua belah pihak, baik untuk yang berkelebihan maupun yang kekurangan. Semangat solidaritas sosial sangat sejalan dengan momentum Ramadhan, dimana pada bulan mulia ini taujih Rabbani menginginkan agar kita dapat meningkatkan kesalehan sosial selain kesalehan personal.
Solidaritas sosial yang perlu untuk lebih dikembangkan adalah solidaritas sosial yang berorientasi pada kegiatan produksi bukan pada kegiatan konsumsi. Solidaritas sosial yang memiliki dampak pada penyerapan tenaga kerja. Solidaritas sosial yang mampu meningkatkan kemampuan daya beli masyarakat secara berkesinambungan. Pendekatannya adalah pendekatan memberikan kail, bukan pendekatan memberikan ikan atau aksi sinterklas seperti bantuan langsung tunai. Sudah sepantasnya pula di bulan penuh berkah, para pengusaha membangun komitmen baru untuk mulai meningkatkan alokasi bagi program CSR (Corporate Social Responsibility).
Ketiga, keyakinan. Butuh keyakinan kuat dari seluruh rakyat Jawa Barat untuk dapat mewujudkan visi Jawa Barat Mandiri, Dinamis dan Sejahtera. Kekuatan keyakinan seringkali dapat membuat seseorang maupun masyarakat mampu melakukan hal-hal yang tak terbayangkan oleh akal sehat manusia.
Memang saat ini Jawa Barat adil sejahtera masih menjadi sebuah mimpi. Namun bukanlah mimpi yang tak dapat diraih. Pernahkah kita memperhatikan Jawa Barat secara lebih seksama? Ketika memperhatikan bumi Jawa Barat, satu hal yang langsung terlintas dalam benak saya, bahwa tidak layak ada satu orang pun yang hidup dalam kemiskinan di tanah yang subur ini. Tak layak ada satu orang pun yang memiliki kesulitan memperoleh pekerjaan, layanan pendidikan dan kesehatan. Suatu keniscayaan bahwa manusia memerlukan mimpi. Tanpa mimpi, seseorang pada hakikatnya telah mati meskipun hidup. Bukankah seorang bijak menyatakan bahwa mimpi hari ini adalah kenyataan esok hari.
Dimuat di Harian Tribun Jabar, Senin 8 September 2008
Sumber: http://www.ahmadheryawan.com/



Komentar
Posting Komentar